Jeane Rimber Indy, Ph.D (Mexico)

The origin of life is one of the greatest unanswered questions in sciences.

Jeane Rimber Indy lahir di Madidir, Kecamatan Bitung, Sulawesi Utara, Indonesia, 20 September 1970 dari pasangan keluarga sederhana, ayah bernama Josephus Indy dan Santje Liesje Kandiyoh. Masa kecil dihabiskan di desa Manembo-nembo, Bitung, kemudian ikut Opa dan Oma, (orangtua dari Ibu): Pdt. Emeritus D.M.V Kandijoh, dan Almarhumah Zus Alwina Rampengan untuk sekolah dan tinggal di Manado, tepatnya di Titiwungen, Wenang, dirumah pastoral Gereja GMIM Paulus. Di umur 4 tahun masuk Sekolah Dasar di SD GMIM I Manado, dan menamatkan SMP di Sekolah Kr. Tabita Manado, dan SMA Kr ElFatah Manado. Aktif di Olahraga karate sejak berumur 10 tahun dibimbing oleh Pelatih yang juga merupakan paman dan tante, bernama: Joppy Masengi dan Hilda Kandiyoh. Jeane meraih sabuk hitam DAN I dalam usia relatif sangat muda. Semasa SMP pernah meraih Juara III KATA Kejuaraan Karate Terbuka yang dilaksanakan di Manado, dan semasa SMA pernah meraih trophy bergilir Juara I Kejuaraan Karate Piala KAPOLDA, dan meraih medali Perunggu pada tahun 1988 untuk Kejuaraan Terbuka KASAD CUP (Piala Kasad) yang dilaksanakan di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Masuk Universitas Sam Ratulangi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsrat, jurusan Budidaya Perairan (BDP) dengan umur yang relatif muda, 16 tahun, yaitu pada tahun 1988. Ditahun yang sama, dipanggil untuk bergabung dalam Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) di Senayan, Jakarta selama 1 tahun mewakili Sulawesi Utara untuk kelas – 53 Kumite Putri untuk persiapan SEA GAMES IX, Kuala Lumpur, Malaysia, yang akhirnya Team Putri Indonesia meraih Juara III. Untuk itu, Jeane mengambil cuti akademik selama 1 tahun 1988-1989. Sekembali dari Pelatnas kembali aktif di perkuliahan, sementara itu tetap aktif berlatih karate. Sesudah itu Jeane meraih tempat pertama di Kejuaraan National Karate Terbuka Indonesia, Surabaya 1989 lewat sebuah pertarungan sengit, dan mendapat ticket gratis ke 2 kejuaraan Dunia karate yaitu WORLD KARATE CHAMPIONSHIP (WUKO) yang dilaksanakan di Mexico (1990). Sayangnya, karena banyak absen di kuliah, Jeane akhirnya menolak untuk masuk Pelatnas kembali, akan tetapi kesempatan emas untuk berkompetensi didunia Internasional kembali datang ketika Jeane diminta untuk ikut Kejuaraan Dunia yaitu WORLD SHOTOKAN KARATE-DO yang juga dilaksanakan di Mexico (1990), dengan latihan keras dan waktu yang ketat, yang waktu latihan diprogramkan sendiri pagi dan sore selama 3 bulan. Sejak dinihari harus bangun jam 3 sampai jam 6.30 a.m dilapangan olahraga KONI, Sario di Kota Manado, dan latihan dilanjutkan pada sorenya jam 4 sampai jam 8 p.m.
Dengan perjuangan yang keras dan disiplin yang ketat, Team Indonesia meraih Medali Perak.

Setelah meraih sukses di olahraga Karate untuk Nasional maupun Internasional, akhirnya Jeane memutuskan untuk gantung sabuk dan memilih untuk berkonsentrasi di kuliah demi memenuhi petuah dari Opa tercinta yang meskipun beliau sangat senang dengan prestasi karate yang diraih cucu pertama perempuannya, akan tetapi beliau sangat optimis bahwa belajar adalah yang terbaik dengan selalu mengingatkan cucu tertuanya dengan kata-kata bijaknya: “Ingat Jeane, karate hanyalah hobi, kuliah adalah masa depanmu, persiapkan masa depanmu dengan baik, belajarlah dengan giat dan hanya satu yang opa inginkan yaitu 1 kertas, artinya ijazah Sarjana Perikanan.”

Saat berada di La Paz, Mexico

Akhirnya setelah berkonsentrasi penuh di kuliah, dalam jangka waktu yang relatif singkat 3 tahun, yaitu tahun 1993 tepatnya bulan Juni (selama studi mendapat beasiswa TID /Tunjangan Ikatan Dinas), berhasil menamatkan kuliah dan meraih tempat Pertama Mahasiswa Teladan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Unsrat dan Juara III Mahasiswa teladan tingkat Universitas Sam Ratulangi Manado, dan untuk terakhir kalinya, memperkuat Sulawesi Utara di PON (Pekan Olahraga Nasional) tahun 1993, di Jakarta dan meraih medali Perunggu.
Pada tahun 1996 atau 2 tahun setelah diterima sebagai Dosen tetap FPIK, Jeane mendapat beasiswa dari pemerintah Jepang (MONBUKAGAKUSHO) untuk program Master selama 2 tahun (1996-1998) di Ryukyus University, Okinawa, Jepang dan meraih gelar Master in Science (M.Sc) in Biology dengan keahlian dibidang Alga Laut atau dikenal dengan Seaweed, disamping itu meraih Juara III kontes berbicara bahasa Jepang, Kemudian, tahun 2001 untuk program Doktor, beasiswa dari Jepang (MONBUKAGAKUSHO) untuk yang kedua kalinya. Selama 4 tahun (2002-2006) belajar di Hokkaido University, Jepang, meraih gelar Doktor of Phylosophy (P.hD) dengan keahlian dibidang Biosciences. Selama study Doctor di Hokkaido, mendapat beasiswa dari Laboratory of Breeding Sciences selama 2 tahun sebagai Asisten Peneliti.

 

Jeane Rimber Indy bersama teman-teman di Mexico

Menulis 2 paper Internasional yang dipublikasi tahun 2005 dan 2006 sebagai Peneliti Utama dan yang salah satunya tentang satu rumput laut merah Exophyllum wentii ditemukan di Bali, Indonesia setelah 100 tahun sejak pertama kali dipublikasikan.
Pada tahun 2007 Jeane ke Mexico, dan dikontrak sebagai Penanggung Jawab Live Food Laboratorium sekaligus jadi Akademisi Peneliti di Biological Sciences Division, Universidad Juarez Autonoma de Tabasco (UJAT),Tabasco, Mexico. Selama di Mexico, menulis artikel di Agroregion dalam bahasa spanyol tentang kegunaan rumput laut dengan judul Conozcamos la importancia de las algas marinas, dan menulis 1 buah paper internasional sebagai Peneliti Utama tentang kromosom udang air tawar natif dari Tabasco, Procambarus llamasi. Dan beberapa paper internasional dan nasional lainnya sebagai Peneliti Kedua, serta berpartisipasi di berbagai event internasional dan nasional, pembimbing kedua untuk thesis beberapa Mahasiswa dari Mexico dengan penelitian tentang analisa kromosom udang dan ikan-ikan air tawar Tabasco, Mexico.

Tahun 2011-2012, Jeane menerima beasiswa Postdoc dari TWAS-CONACYT, Italy Mexico, penelitian  di Centro Investigacion de Noroeste (CIBNOR), La Paz dan Universidad Juarez Autonoma de Tabasco (UJAT), Mexico. Dan sejak January 2012-2014 diterima sebagai Profesor Investigador Invitada, dan menerima beasiswa dari pemerintah Mexico, FONDO-MIXTO.  Memiliki proyect udang air tawar PIGUA (Macrobrachium carcinus) dengan biaya PFICA-UJAT periode 2012-2014. Selain itu  juga dikontrak sebagai Tenaga Ahli Penanggung Jawab Laboratory Live Food di Universidad Juarez Autonoma de Tabasco, Multidisciplinario Division periode 2012. Anggota peneliti Tabasco, SEI (Sistema Estatal Investigacion) periode 2011-2012, dan diterima sebagai peneliti nasional tingkat 1, S.N.I (Sistema Nacional Investigador) peridoe 2012-2014.

Menguasai dengan baik beberapa bahasa selain bahasa Ibu, (bahasa Indonesia). Menguasai dengan baik bahasa Inggris, Jepang, dan bahasa Spanyol, serta dasar bahasa German, Perancis, dan Rusia. Saat ini Jeane sedang dalam tahap penyelesain satu buku Ensiklopedia dengan judul INDONESIA SEAWEED untuk diterbitkan. Dalam perkembangan karakter, Jeane banyak dipengaruhi oleh Opa dan Oma yang selalu memberikan arahan dan bijakan selama masa-masa sekolah. Nilai-nilai hidup yang paling ditanamkan opa dan oma adalah hidup sederhana dan bersikap mandiri, dan selalu mengucap syukur atas segala sesuatu. “Hal yang paling ditekankan oleh Opa dan Oma saya adalah selalu berharap pada Tuhan apapun yang dihadapi, sedang dihadapi, dan yang akan dihadapi selama kita didunia. Selalu bersikap mandiri, tegar, dan penuh optimis, dan tentunya kerja keras untuk segala sesuatu yang baik yang ingin dicapai,” kata Jeane mengenang.

Jeane memiliki target jangka panjang dalam hidup dan pekerjaan yang sekarang, yaitu ingin menjadi Peneliti yang sukses dibidang Biology dan Genetika Organism Aquatic. “Filosofi hidup saya yang selalu saya jaga adalah: pelihara karakter yang baik dan berpikirlah selalu positif dan optimis untuk sukses yang ingin diraih, tentunya dengan kerja keras. Cita-cita yang ingin dicapai semasa kecil adalah bergelar Doktor, dan sekarang sudah tercapai. Saya bahagia sekarang,” kata Jeane mantap. (Penulis : Alvin Ratag)